Ketika kapal tiba di pelabuhan atau lokasi lepas pantai, menghentikan mesin tidaklah cukup.
Kapal harus ditambatkan dengan aman untuk tetap berada di posisinya dan tetap aman. Penambatan yang buruk dapat menyebabkan kerusakan kapal, kecelakaan di pelabuhan, atau bahkan risiko lingkungan.
Kapal, kedalaman air, dan kondisi laut yang berbeda memerlukan metode tambat yang berbeda. Metode ini bergantung pada sistem peralatan seperti tali tambat, rantai jangkar, jangkar, dan pelampung tambat bekerja sama.
Artikel ini menjelaskan metode tambat yang paling umum digunakan untuk kapal dan peralatan di belakangnya, dengan cara yang jelas dan praktis.
Apa Itu Tambatan Kapal?
Penambatan kapal adalah proses mengamankan kapal dalam posisi tetap menggunakan tali, rantai, jangkar, atau struktur terapung.
Penambatan digunakan ketika:
- Sebuah kapal berada di samping tempat berlabuh
- Sebuah kapal tetap berada di lepas pantai untuk bongkar muat
- Sebuah kapal menunggu di tempat berlabuh untuk waktu yang lama
Dalam istilah teknik, tambat bukan hanya tentang tali. Ini adalah sistem penahan beban dirancang untuk menangani angin, ombak, arus, dan pergerakan kapal.
Tambatan Samping (Tambatan Dermaga)
Tambatan di samping adalah metode yang paling umum digunakan di pelabuhan.
Kapal diposisikan sejajar dengan dermaga atau jetty dan diamankan dengan beberapa tali tambat yang terhubung ke tonggak pantai.
Peralatan Khas yang Digunakan
- Tali tambat atau tali kawat baja
- Tonggak pantai dan fairlead
- Fender di antara kapal dan tempat berlabuh
Keuntungan
- Akses mudah untuk operasi kargo
- Penanganan jalur sederhana
- Cocok untuk sebagian besar kapal komersial
Keterbatasan
- Membutuhkan infrastruktur pelabuhan
- Tidak cocok untuk lokasi lepas pantai
Metode ini banyak digunakan untuk kapal kontainer, kapal curah, dan kapal tanker di pelabuhan yang terlindung.
Penambatan Haluan dan Buritan
Pada tambatan haluan dan buritan, kapal ditahan pada posisinya oleh garis di kedua ujungnya, terkadang dikombinasikan dengan jangkar.
Metode ini sering digunakan dalam:
- Saluran air yang sempit
- Area dengan arus yang kuat
- Ruang dermaga yang terbatas
Peralatan Utama
- Garis tambat
- Jangkar dan rantai jangkar
Pertimbangan Teknik
- Kontrol yang lebih baik atas pergerakan kapal
- Beban tegangan yang lebih tinggi pada saluran
- Membutuhkan perencanaan tata letak yang cermat
Tambatan haluan dan buritan meningkatkan stabilitas arah, tetapi membutuhkan pengoperasian yang terampil dan perhitungan beban yang tepat.
Tambatan Titik Tunggal (SPM) / Tambatan Pelampung Tunggal
Sistem Tambat Titik Tunggal banyak digunakan di operasi minyak dan gas lepas pantai.
Kapal terhubung ke satu pelampung tambat pusat dan dapat berputar bebas di sekelilingnya, sejajar secara alami dengan angin dan ombak.
Komponen Utama
- Pelampung tambat
- Rantai jangkar yang berat
- Jangkar atau tiang pancang dasar laut
- Penambat hawser
Keuntungan
- Menangani angin kencang dan ombak
- Mengurangi tekanan lambung kapal
- Cocok untuk kapal tanker besar
Sistem SPM dirancang sebagai instalasi permanen dan memerlukan analisis teknik yang terperinci tentang beban dan kelelahan.
Penambatan Multi-Pelampung
Penggunaan tambatan multi-pelampung beberapa pelampung tambat diatur di sekitar kapal.
Setiap pelampung terhubung ke jangkar dan rantai di dasar laut, membentuk sistem penahan yang stabil.
Aplikasi Khas
- Kapal konstruksi
- Tongkang
- Operasi lepas pantai sementara
Peralatan yang Digunakan
- Pelampung tambat
- Garis tambat
- Jangkar dan rantai
Metode ini menawarkan fleksibilitas dan tidak memerlukan tempat berlabuh yang tetap, sehingga berguna di lokasi terpencil.
Tambatan Berlabuh
Tambatan berlabuh terutama bergantung pada satu atau lebih jangkar dan rantai jangkar.
Ini biasanya digunakan pada:
- Area tempat berlabuh
- Zona tunggu di luar pelabuhan
Kelebihan
- Tidak diperlukan infrastruktur pantai
- Penyiapan sederhana
Kekurangan
- Diperlukan area ayunan yang luas
- Kontrol terbatas dalam cuaca buruk
Tambatan berlabuh cocok untuk penahan jangka pendek hingga menengah dalam kondisi laut sedang.
Peralatan Tambat Utama Dijelaskan
Tali dan Tali Tambat
Garis tambat mengirimkan beban antara kapal dan titik tambat.
Bahan-bahan yang umum termasuk:
- Serat sintetis (nilon, polipropilena)
- Tali kawat baja
Pemilihan tergantung pada kekuatan, elastisitas, dan ketahanan abrasi.
Rantai Jangkar
Rantai jangkar menghubungkan jangkar atau pelampung ke dasar laut dan menangani beban tarik yang tinggi.
Mereka harus melawan:
- Korosi
- Kelelahan
- Abrasi akibat kontak dengan dasar laut
Pelampung Tambat
Pelampung tambat menyediakan titik koneksi mengambang dalam sistem tambat lepas pantai dan tambat dekat pantai.
Mereka sangat penting untuk:
- Sistem tambat titik tunggal
- Tata letak tambatan multi-pelampung
Faktor desain meliputi daya apung, daya tahan, dan pemeliharaan jangka panjang.
Bagaimana Memilih Metode Penambatan yang Tepat
Memilih metode penambatan tergantung pada:
- Kedalaman air
- Beban lingkungan (angin, ombak, arus)
- Ukuran dan perpindahan kapal
- Durasi penambatan
Dari perspektif teknik dan pengadaan, fokusnya harus selalu pada keandalan sistem, bukan hanya komponen individual.
Kesimpulan
Tambatan adalah sistem lengkap, tidak ada satu pun tali atau jangkar.
Memahami metode tambat yang umum dan peralatan yang terlibat membantu para insinyur, operator, dan pembeli memilih solusi yang lebih aman dan efisien untuk operasi pelabuhan dan lepas pantai.
PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN
Apa metode tambat yang paling umum untuk kapal?
Tambatan di samping adalah metode yang paling umum, terutama di pelabuhan komersial dengan fasilitas tempat berlabuh yang memadai.
Peralatan apa yang digunakan dalam penambatan kapal?
Peralatan yang umum termasuk tali tambat, rantai jangkar, jangkar, pelampung tambat, dan perangkat keras sambungan seperti belenggu dan putar.
Mengapa pelampung tambat digunakan sebagai pengganti struktur tetap?
Pelampung tambat memungkinkan kapal untuk berlabuh di area lepas pantai atau perairan dalam tanpa membangun infrastruktur permanen.
Dapatkah satu metode tambat digunakan untuk semua kapal?
Metode penambatan harus dipilih berdasarkan ukuran kapal, lingkungan, dan kebutuhan operasional.

